July 2016

Wednesday, 6 July 2016

Budidaya Penangkaran Ayam Bekisar Sentolo

Ayam bekisar adalah hasil perkawinan antara ayam hutan hijau jantan (Gallus varius) dan ayam kampung/ayam buras betina (Gallus gallus domesticus).
Ada tiga tipe ayam bekisar, yaitu :
  1. Gallus aenus yang berjengger bergerigi 8 kecil, pial berukuran sedang, warna bulu pada lapisan atas ungu dengan plisir kuning emas.
  2. Gallus temminckii memiliki jengger bergerigi enam, pial berwarna jambu, bulu merah mengkilap dan berplisir merah kecoklatan.
  3. Gallus violaceus dengan jengger bergerigi bagus, ukuran pial sedang, warna bulunya ungu dengan permukaan yang halus.

Ayam bekisar memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan ukuran ayam kampung jantan, tetapi lebih besar daripada induk jantannya. Warna bulunya hitam kehijauan dan mengkilap. Memiliki suara yang halus dan khas: tersusun dari dua nada.

Ayam bekisar, karena ia hasil persilangan antara dua jenis yang berbeda, biasanya mandul. Namun, tidak semuanya demikian. Ada pula ayam bekisar (jantan atau betina) yang bila dikawinkan dengan ayam kampung menghasilkan keturunan.

Ciri-ciri khusus dari ayam bekisar yang paling menonjol adalah bentuk bulu leher yang ujungnya bulat/lonjong bukan lancip. Jika dibandingkan dengan ayam jago biasa maka akan terlihat jelas. Bentuk ayam yang mirip sekali dengan bekisar adalah hasil silangan ayam bekisar dengan ayam kampung yang dinamakan bekikuk. Bentuk dan posturnya sama, hanya kadang-kadang pial dan bulu lehernya yang berbeda.

Tahukah anda ternyata di Sentolo Kulon Progo DIY ada seorang penangkar bekisar yang cukup handal, ibarat seorang maestro seni. Orang mengatakan bahwa menangkar bekisar itu ibarat membuat karya seni.: 
“Memproduksinya ibarat membuat karya seni,  sementara pembelinya terus mengantri”

Jaringan pembibit, pedagang dan komunitas penggemar ayam bekisar tersebar di seantero negeri. Seandainya bibit ayam bekisar diproduksi dalam jumlah banyak pun dipastikan akan tetap laku.
Walaupun demikian, persis seperti barang seni, tak mudah untuk membuat karya dalam hal ini bibit ayam bekisar yang masuk kategorimasterpiece (karya besar). Lebih dari itu, meski pembibit membatasi jumlah produksi, biaya produksi tetap rendah. “Khas seperti barang seni. Antara harga jual dengan ongkos pembuatan sangat jauh dan sangat untung. Tapi sayangnya tidak semua orang bisa membuatnya,” ungkap Agustinus Ariyanto, pembibit ayam bekisar asal Sentolo, Kulon Progo, Jogjakarta ini.
Menurut peternak yang akrab disapa Agus ini, di komunitas bekisar antara peternak dan penghobi garis pembatasnya cukup jelas. Peternak seperti dia kebanyakan hanya berkonsentrasi memproduksi bibit saja, untuk dijual. “Meski nanti bibit dipelihara oleh penghobi, kemudian memenangkan kontes sehingga harganya melambung hingga setara harga mobil mewah, kami ikut senang karena pemenang itu bibitnya dari kita,” paparnya bersemangat.
Sebaliknya, penghobi jarang yang bisa beternak (pembibitan bekisar). Sebab ayam bekisar adalah final stock persilangan yang mandul, tidak bisa dikembangbiakkan lagi.

Produksi
Setiap 5 hari, Agus mengaku mampu mengeluarkan 80 – 100 ekorkuthuk (DOC) bekisar. Perbandingan jantan dan betinayang dijual sebesar 50 : 50. Pejantan dijual Rp 60 ribuper ekor sedangkan betina Rp 6 ribu per ekor.

Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional Jogjakarta ini mengungkapkan harga kuthuk tak pernah turun. Padahal, menurut dia hanya bekisar pejantan yang ‘berfungsi’ atau dikonteskan. Karena kontes ayam bekisar meliputi warna bulu, warna kaki, postur, kebersihan, dan suara kokok. Selain itu, ayam bekisar betina tidak produktif (kalaupun bertelur, fertilitas telur sangat rendah) dan berdaging tipis.
Maka Agus berpesan kepada penghobi bekisar pemula untuk membeli bibit ayam bekisar di tempat yang jelas. Bisa ke pembibit langsung atau kepada sesama penghobi agar tidak tergiur harga miring tetapi ternyata yang didapatkan adalah kuthuk betina.

Untuk memproduksi kuthuk bekisar, Agus menyediakan pejantan ayam hutan sebanyak 30 ekor dan 200 ekor ayam kampung betina. “Pejantan harus ayam hutan hijau, asal dari Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kalau induk betina paling bagus memakai ayam kampung dengan warna bulu wido,” paparnya. Ciri wido adalah bulu berwarna seperti klobot (sarung tongkol jagung) dengan variasi kuning. Ayam hutan dari Sumatera dan Kalimantan tidak dapat dipakai karena berjenis ayam hutan merah.
Pejantan ayam hutan yang dipakai Agus adalah hasil tetasan, bukan ayam hutan tangkapan. “Ayam hutan tetasan mentalnya bagus, karena tidak sempat hidup ‘liar’ dan tidak mengalami perubahan habitat,” ungkapnya.

Agus menyatakan harga calon pejantan ayam hutan hasil tetasan yang layak untuk pemacek mencapai Rp 750 ribu – Rp 1 juta per ekor. Bahkan pejantan yang sudah terbukti mampu mengawini dan subur bisa mencapai Rp 3 juta per ekor.
Agus memilih menggunakan kawin alami sistem dodokan ketimbang sistem IB (inseminasi buatan).  Kuthuk bekisar hasil kawin IB biasanya kalah kuat dibanding anak dari kawin alam sehingga harus dirawat lebih teliti terutama pada sebulan pertama kehidupannya.
Sistem dodokan adalah pejantan dibawa ke kandang baterai betina, betina didudukan kemudian keduanya dipasangkan sehingga terjadi perkawinan secara akurat.

Kendala
Hingga saat ini, kendala bisnis pembibitan bekisar tidak berada di pemasaran, tetapi murni di teknis budidaya. Kendala yang umumnya di alami pembibit bekisar adalah kemandulan dengan gejala telur tidak fertil sejak 5 tahun lalu. Saat parah-parahnya kasus ini, telur tetas yang fertil pada candling pertama hanya sekitar 2 – 5 %. “Semua peternak pembibit mengalami. Namun dengan berbagai percobaan yang menghabiskan uang puluhan juta, berangsur-angsur bisa teratasi,” ungkapnya.

Sayangnya Agus menolak merinci cara mengatasi kemandulan itu. Ia hanya menyampaikan, dilakukan perbaikan budidaya, mencukupi nutrisi, mencegah penyakit dan menambah sistem kekebalan dan kesehatan ayam. Ia bahkan menghindari air sumur karena banyak mengandung E coli. “Saya pakai air dari perusahaan air minum,” tegasnya.

Monday, 4 July 2016

Yogyakarta : The Cultural Soul of Java

kyAs a place that is highly independent and protective of its customs and traditions, Yogyakarta can be considered as the cultural soul of Java, and indeed the place is known as Java's cultural capital, a center of historical, political, and cultural development. Many of Java's cultural landmarks can be found at Yogyakarta. On equal footing with its cultural attributes, however, are its plethora of natural attractions that also made it one of Java's most admired travel destinations.
To fully experience the magnificence of Yogyakarta as a travel destination, some of its hottest attractions and activities are given below:

Kraton
The official palace of the Sultan of Yogyakarta, known as the Kraton, is a fascinating cultural and political landmark that is much more of a walled city within a city. It is home to about 25,000 residents, 1,000 of whom are under the employment of the sultan. The Kraton is a self contained community, with its own vital establishments such as markets, schools, mosque, cottage industries, and even a museum. The Kraton is one of the structures that exemplify the finest of Javanese architecture and culture. Its museum holds an extensive collection of historical and cultural memorabilias. Guided tours and performances are regularly held for the benefit of tourists and visitors.

Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo is Yogyakarta's main market, located just 800 meters north of Kraton. Mostly inexpensive batik cap are sold in its front section. On the second floor, cheap shoes and shoes can be found. Pasar Beringharjo's section towards the south is still very much a traditional market.

Kota Gede
Kota Gede is famous as Yogyakarta's center for the silver industry since 1930. Prior to that, however, the town was once the first capital of the Mataram Kingdom, which was founded in 1852 by Senopati. Located near the southern end of the central market lies Senopati's grave, whom the locals consider as sacred.

Tembi
Located at the southern portion of the city, Tembi is a beautiful Javanese cultural center seated in a unique position, surrounded by rice paddies. Its wooden houses, old but beautiful, is home to cultural artifacts including batik and basketry, a fine collection of kris, wayang puppets, and historic photographs of Yogyakarta. A restaurant and an accommodation is available, too!

Sono-Budoyo Museum
Structurally speaking, this museum is poorly lit and a little unkempt and dusty, but it boasts of a fine, first- class collection of Javanese art including batik, kris, puppets, topeng, and wayang kulit. Its courtyard is a location for a Hindu statuary and artefacts collected including Balinese carvings. Apart from these function of being home to such collections, this museum is also a venue for wayang kulit performances.

Handycraft Villages
The Sentolo District of Kulonprogo Regency, has a handycraft villages like Sentolo, Salamrejo, Tuksono and Sukoreno, etc. each has an individual style of handycrafts and due to this individuality and uniqueness, the handycrafts coming from these regions are not only different but above par excellence as well.

Featured post

Budidaya Penangkaran Ayam Bekisar Sentolo

Ayam bekisar adalah hasil perkawinan antara ayam hutan hijau jantan (Gallus varius) dan ayam kampung/ayam buras betina (Gallus gallus domes...